logo LP Ma'arif Ponorogo

Alumni MA Ma’arif Al-Mukarrom Raih Medali Emas Lomba Tingkat Nasional

Luluk Fuadah peraih medali emas dalam Olimpiade Agama Sains dan Riset (foto: PAC Jambon/Ma’arifPo)

Media Ma’arif Ponorogo-Alumni MA Ma’arif Al-Mukarrom Ponorogo berhasil membawa pulang medali emas tingkat nasional dalam event yang diselenggarakan Kemenag berlabel Olimpiade Agama Sains dan Riset Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (OASE PTKI) tahun 2021, adalah Luluk Fuadah (22 tahun). Santriwati asal Desa Pulosari, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo ini berhak mendapatkan medali setelah berhasil mendapatkan poin tertinggi diantara para peserta lain dalam lomba bidang Karya Inovasi Produk Halal dan Ketahanan Pangan.

Babak grand final OASE dilaksanakan pada tanggal 24 hingga 28 November 2021 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, setelah sebelumnya telah diadakan babak penyisihan pada akhir September lalu. Luluk bersama rekan satu groupnya yaitu Vera Febriana dan Rizki Putri Asyari mengikuti lomba ini sebagai perwakilan dari Kampus IAIN Ponorogo.

Dalam wawancara yang dilakukan jurnalis Media LP Ma’arif Ponorogo melalui sosial media whatsapp (WA), Luluk menjelaskan pengalamannya yang dialami selama persiapan hingga hari perlombaan tiba.

“Kalau untuk sejak kapan kami mempersiapkan sebenarnya tidak ada persiapan khusus mas, soalnya kan memang sudah semester tua. Jadi kami mau istirahat tapi ternyata kami dapat panggilan dari jurusan, akhirnya kami ya siap-siap saja. Tapi sebelumnya memang sudah ide yang setengah, jadi kami tinggal menyesuaikan saja. Pada jurusan kami memang menerapkan sistem -buat saja dulu nanti waktu ada event langsung ready-. Dan waktu itu semuanya sudah ada, mulai dari ide hingga proposal, otomatis kami tinggal menyesuaikan dengan tema dan memperdalam penelitian aja”, tutur Luluk.

Luluk juga menjelaskan kesulitan yang dialami bersama rekan satu timnya ketika mempersiapkan segala kebutuhan yang harus dipenuhi dalam mengikuti lomba pada bidang Karya Inovasi Produk Halal dan Ketahanan Pangan.

“Kesulitan terberat adalah saat mencari bahan dasar produk, kebetulan kami adalah jenang dari olahan kulit durian. Nah cari kulit duriannya itu yang susah, soalnya waktu itu belum musim. Tapi alhamdulillah berkat bantuan dari teman-teman akhirnya kami bisa mendapatkannya. Selain itu, kesulitannya selanjutnya adalah membagi waktu, ya tau sendiri kan bagaimana tugas kuliah kalau sudah semester 7 dan saya juga ada kesibukan lain diluar kampus, saya mondok mas, jadi agak susah juga bagi waktunya.” tutur Luluk.

“Pesan saya untuk para pembaca, hidup itu perlu nge-gas gais. Kalau nggak nge gas, nggak hidup. Gak perlu yang besar, yang penting ada pergerakan. Tapi jangan lupa untuk tetap berdoa dan rendah hati karena semuanya itu takdir Allah, tetep semangat”, pungkasnya.

Juara sejati adalah orang yang mampu mengalahkan dirinya sendiri

Gus Mus

Redaksi : Ihsan

Editor : Nizar H

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

MEDIA SOSIAL

INFORMASI TERBARU

TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT