logo LP Ma'arif Ponorogo

Babad Lembaga Pendidikan Ma’arif NU

Media LP Ma’arif Ponorogo– Lembaga pendidikan Ma’arif NU saat ini sudah memasuki usia yang ke-92, jadi 8 tahun yang akan datang akan berusia 100 tahun atau 1 abad. Selama perjalanan 92 tahun itu tentunya terdapat banyak peristiwa yang telah berhasil dilewati LP Ma’arif dalam mengawal dunia pendidikan di lingkup NU, Indonesia bahkan dunia. Pada tulisan kali ini akan disajikan penggalan sejarah/babad lembaga pendidikan milik Nahdlatul Ulama secara singkat dan ringan tetapi berisi untuk dijadikan wawasan dan pelajaran.

Sudah menjadi keniscayaan jika LP Ma‘arif untuk terus menjalankan tugas yang dibebankan NU dalam rangka mencerdaskan bangsa, sesuai dengan dinamika perkembangan NU dan bangsa Indonesia. Pada tahun 1935 NU sudah mulai merintis madrasah di luar pesantren, yang dilaksanakan secara klasikal (bersama-sama dalam kelas). Sistem kelas yang disusun meliputi Madrasah Umum dan Madrasah Ikhtishashiyyah (kejuruan).

Pada Madrasah Umum terdiri dari 13 jenjang kelas, mulai dari tingkat Awwaliyah (2 tahun), Ibtida‘iyah (3 tahun), Tsanawiyah (3 tahun), Mu‘allimin Wustha (2 tahun) dan Mu‘allimin Ulya (3 tahun). Lalu pada bidang kejuruannya meliputi bidang Qudlat (hukum), Tijarah (perdagangan), Nijarah (pertukangan), Zira‘ah (pertanian), Fuqara‘ (sekolah khusus fakir miskin) dan Kejuruan Khusus. Pada tahun 1937, NU mempelopori pendirian al-Majlis al Islami al A‘la Indonesia (MIAI) dalam rangka mempersatukan langkah organisasi Islam di Indonesia dengan KH. Wahid Hasyim sebagai ketua umum dan Faqih Usman dari Muhammadiyah sebagai sekretarisnya.

Pada masa penjajahan Jepang tepatnya pada bulan Maret 1942 perkumpulan NU dan organisasi lainnya dibubarkan oleh rezim Jepang. Para ulama melanjutkan gerakannya di MIAI dan kemudian mendirikan Majelis Syuro Muslimn Indonesia (Masyumi). Bersamaan dengan pendirian Masyumi, MIAI pun resmi dibubarkan. Melalui Masyumi dan juga melalui pengaruh para kyai di Shumubu, NU senantiasa membela kepentingan umat Islam, masih dengan cara-cara akomodatif (penyesuaian dengan kondisi).

Pada September 1943, atas dasar permintaan Wahid Hasyim lewat parlemen Jepang mengijinkan NU dan Muhammadiyah aktifkan kembali dan bisa beraktivitas seperti di masa penjajahan Belanda. Meskipun masa pendudukan Jepang sangat singkat, yakni tahun 1942-1945 adalah masa yang sangat sulit bagi bangsa Indonesia, tidak terkecuali NU. Namun demikian, dengan segala kesulitan dan keterbatasannya saat itu LP Ma‘arif tetap menjalankan tugasnya mencerdaskan anak bangsa.

Paska Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 NU menyelenggarakan Muktamar NU ke-16 pada 26-29 Maret 1946 di Purwokerto. Ini adalah Muktamar pertama setelah Muktamar NU ke-15 yang diadakan pada tahun 1940. Awalnya, sejak berdiri pada tahun 1926 hingga 1940, NU menyelenggarakan Muktamar setiap tahun sekali.

Dalam Khutbah Iftitahnya pada pembukaan Muktamar di Purwokerto tersebut Rais Akbar Hadratussysyaikh KH. Hasyim Asy‘ari menekankan pentingnya pendidikan setelah bangsa dan negara Indonesia merdeka. “Kita harus memusatkan segala perhatian untuk mendidik orang-orang kita, dan melatih anak-anak kita hingga cakap bagi kehidupan di masa yang akan datang di dalam segala lapangannya, politik, militer, sipil, industri dan ekonomi serta yang lainnya. Itu semua harus kita jalankan dengan tenang, diam, dan tenteram”, tutur beliau.

Sumber : https://www.maarifnujatim.or.id/

Editor : Ihsan

Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak bersebrangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan

KH Hasyim Asy’ari

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

MEDIA SOSIAL

INFORMASI TERBARU

TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT