logo LP Ma'arif Ponorogo

Sampai Kapan NU Bertahan (Part 1)

tembok

Oleh: Imron Husnussairi

LP Ma’arif Ponorogo- Semaraknya kehidupan dan semangat keberagaman (Islam) di kampus-kampus “sekuler” belakangan ini merupakan gejala yang sangat menggembirakan bagi umat Islam. Halaqoh-halaqoh dan LDK-LDK (lembaga Dakwah Kampus) bertebaran bak jamur di musim penghujan. Masing-masing halaqoh memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Corak, metode dan orientasi pergerakan dakwah pun berbeda-beda tergantung afiliasi firqoh yang dipegang oleh masing-masing kelompok tadi. Akan tetapi dari berbagai macam ciri khas tersebut sebenarnya ada satu persamaan ciri global yang oleh kalangan Islam tradisional lebih sering disebut “Islam Ekstrim”.

Terlepas dari cap-cap “Islam Ekstrim” untuk kelompok-kelompok tadi, faktanya gerakan-gerakan inilah yang memang disukai dan semerbak dikalangan kampus sekuler (non agama). Gerakan-gerakan inilah seolah yang dapat menjadi pelepas dahaga bagi calon-calon intelektual muslim yang haus dan sadar akan pentingnya nilai-nilai moral Islami bagi kehidupan manusia. Model gerakan dan militansi ala Timur Tengah-an ternyata mampu menarik minat aktivis mahasiswa muslim kampus-kampus sekuler untuk turut bergabung di dalamnya. Apalagi dengan religion basic background yang pada umumnya relatif minim apabila dibandingkan dengan mahasiswa-mahasiswa di kampus-kampus agama (IAIN dan Pesantren).

Beberapa hal yang menyebabkan gerakan-gerakan Islam ekstrimis tadi banyak diminati aktivis mahasiswa muslim sehingga dapat berkembang di kampus sekuler adalah; Pertama mimpi-mimpi kejayaan Islam masa lampau yang ingin dibangkitkan kembali (khususnya di Indonesia). Sejarah telah menuliskan bahwa Islam pernah mencapai puncak peradaban di segala bidang dari mulai sain sampai sastra sebelum akhirnya ditumbnagkan oleh peradaban Barat setelah kalah dalam Perang Salib.

Sebagaimana dimaklumi, peradaban Barat merupakan simbol dari peradaban dari agama-agama yang notabene merupakan “musuh” Islam, yaitu Nasrani dan Yahudi. Fakta sejarah inilah yang menimbulkan “dendam” bagi kalangan muda muslim untuk kembali bergerak demi izzul Islam wal muslimin. Kedua, kondisi emosional pemuda yang cenderung progressive revolosioner. Tidak dapat dipungkiri bahwa kawasan Timur Tengah sampai sekarang masih terus bergejolak terutama perseteruan antara Israel dan Arab. Perseteruan ini mau tidak mau diterjemahkan sebagai perseteruan antara Yahudi-Islam (meskipun sebenarnya pertikaian-pertikaian di Timur Tengah juga tidak lepas dari kepentingan politis dan kondisi psychologi social bangsa Timur Tengah yang cenderung keras sebagaimana dikisahkan dalam literatur sejarah Timur Tengah).

Dan sialnya, bangsavArab (Islam) sampai saat ini selalu saja berada pada posisi yang lemah dan kalah. Diperkuat lagi dengan dukungan Eropa dan Amerika (yang merupakan simbol Nasrani) kepada Israel. Persekongkolan Eropa, Amerika, dan Israel melawan Arab semakin mempertajam perseteruan Nasrani Yahudi melawan Islam. Sebagai reaksi atas penindasannya, maka di negara-negara Arab banyak bermunculan gerakan-gerakan Islam yang cenderung progressive revolosioner dengan kader-kader mudanya yang militan di bidang pemikiran maupun politik. Dapat dilihat seperti Hammas, Intifada, Ikhwanul Muslimin danmasih banyak lagi. Untuk kasus Indonesia, selama bangsa ini merdeka, utamanya selama rezim orde baru terlepas dari kualitas sumber daya umat Islam sendiri, selalu saja umat Islam dipinggirkan. Sebagai umat mayoritas, Islam hanya dipakai sebagai alat legitimasi setiap kebijakan penguasa. Umat Islam Indonesia tertindas seperti di negara-negara Timur Tengah. Gambaran-gambaran di atas semakin memperkuat dugaan, utamanya bagi aktifis mahasiswa muslim akan adanya gerakan anti Islam disegala penjuru dunia. Ditambah lagi pemahaman para aktifis mahasiswa muslim tentang redaksi Al-Qur’an yang mengatakan Walan tardlo’anka al-yahuudu wa an-nashoorohatta tattabi’a millatahum sebagai sinyalemen (sinyal) untuk selalu bersikap curiga (bukan waspada) terhadap Yahudi dan Nasrani.

Celakanya organisasi massa Islam besar seperti NU dan Muhammadiyah selama ini ternyata belum mampu secara signifikan menaikkan nilai tawar umat Islam utamanya di bidang politik dan ekonomi. Kondisi riil semacam ini dapat dengan mudah diterjemahkan oleh aktifis mahasiswa muslim sebagai kegagalan ormas-ormas Islam tersebut untuk menegakkan izzul Islam wa al muslimin. Bahkan, lebih jauh lagi, juga dipahami sebagai kegagalan “ajaran aliran” agama ormas tersebut (NU dan Muhammadiyah). Oleh karena itu tidak dapat disalahkan apabila aktifis mahasiswa muslim di kampus sekuler yang umunya memiliki religion basic background yang relatif terbatas, berpaling ke arah gerakan-gerakan Islam yang lebih progressive revolusioner untuk kembali menegakkan Islam Indonesia yang terpasung. Dan model gerakan-gerakan Islam ala Timur Tengahlah yang mampu menjawab kegamangan para aktifis mahasiswa muslim tadi.

…….

(bersambung.. ke part 2)

Sumber: AULA edisi Januari 2000

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn

Kirim Komentar

INFORMASI TERBARU